Siapa yang tidak mengenal Ranukumbolo, salah satu destinasi wisata yang sudah banyak dikunjungi orang. Bahkan tidak hanya bagi penikmat gunung atau pendaki gunung, diantara mereka juga ada yang bukan pendaki tetapi tetap memilih untuk pergi kesana sekedar memandang dan menikmati secara langsung keindahan yang diberikan Sang Pencipta melalui Danau Ranukumbolo yang berada di area Gunung Semeru. Aku bersyukur setidaknya sekali pernah pergi kesana walaupun tidak mencapai puncak Semeru. Sungguh keindahannya tidak bisa di deskripsikan dengan kata-kata. Bangun tidur keluar tenda, Matahari terbit diantara dua bukit dan itu terlihat sangat indah. Namun setiap orang pasti punya alasan kenapa pada akhirnya memilih Ranukumbolo sebagai salah satu destinasi yang ingin mereka kunjungi. Kalau di tanya soal alasanku, mungkin akan berbeda dengan yang lain hahaha.
Sebenarnya pengalaman pergi ke Ranukumbolo sudah terjadi sangat lama, tetapi aku baru menulis kannya kali ini. Setelah beberapa tahun berlalu. Setelah sekali pergi kesana, aku belum pernah kesana lagi walaupun sebenarnya ingin. Bukan hanya sampai Ranukumbolonya saja, tetapi juga ingin menikmati puncak Semeru.
Awalan niat pergi ke semeru karena memang takjub dengan keindahannya. Itu pun aku tahu ketika aku menonton film 5 cm di salah satu situs bajakan. Itu dulu sekitar tahun 2014. Please jangan ditiru ya, dulu masih anak SMA yang tidak paham akan betapa bahayanya plagiarism nonton film bajakan di internet. Film 5 cm sendiri tayang di bioskop sekitar tahun 2012 yang di Sutradarai oleh Rizal Mantovani. Siapa sangka aku baru saja selesai bekerja sama dengan beliau. Salah satu Sutradara yang unik dan tak tertebak jalan pikiran creativenya. Ketika dia mengemukakan sebuah ide, aku hanya bisa terdiam tanpa mampu berkata betapa cemerlangnya ide yang beliau gagaskan.
Ahh sudahlah, mari kembali ke topik mengenai Ranukumbolo. Setelah melakukan pendakian pertamaku di Penanggungan, sejujurnya aku tidak ingin melakukannya lagi karena setelah pendakian pertamaku aku mengalami efek samping yang sungguh menyakitkan. Aku susah jalan dan tidak bisa jalan normal selayaknya kita biasanya. Kalau kata orang di daerahku namanya Njarem. Aku tidak tahu kalian mengenal istilah itu atau tidak. Tetapi karena keindahan Ranukumbolo meluruhkan niat awalku yang tidak mau naik gunung lagi.
Bagi anak SMA apalagi perempuan seperti aku untuk mendapatkan izin naik gunung sangatlah susah walaupun naik gunungnya karena acara sekolah. Aku butuh sekitar 2 bulanan untuk mendapatkan izin itu. Terima kasih untuk ayah yang selalu menjadi penolongku ketika aku tidak mendapatkan izin dari Ibu, ayahku yang akan selalu membantu membujuknya untuk membiarkan aku pergi. Memang anaknya tergolong nekat karena sudah mandarah daging dari ayah yang suka sekali dengan tantangan wkwkwk
Akhirnya setelah persiapan yang dibilang tidak cukup matang, aku berangkat bersama rombongan anak pramuka lainnya. Untuk kesana waktu yang kami habiskan sekitar 3 hari. Kami berangkat pagi hari hingga sampai di rest area siang hari. Di siang itu kami habiskan untuk makan siang dan sholat sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menggunakan mobil Jeep menuju Ranupani.
Aku pikir perjalan menuju Ranupani akan biasa saja karena melewati aspal biasa. Nyatanya semakin jauh jalanannya cukup terjal. Aku lupa satu mobil jeep ditumpangi berapa orang. Kalau tidak salah mungkin 8 orang. Banyak bukan hahaha
Dalam perjalanan itu pun kami berpegang erat dengan besi mobil jeep agar tidak terpental jatuh karena jalannya yang berkelok-kelok. Bukan hanya berkelok, tapi juga terjal. Terkadang di sisi kiri atau kanan kami pasti ada aja jurang, siapa yang tidak takut akan hal itu. Namun kami melewatinya dengan tawa bahagia walaupun sempat berhenti sejenak karena hujan mengguyur. Kami berhenti sejenak sekedar menutup atas jeep menggunakan terpal, setelahnya kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ranupani.
Lihat betapa bahagianya wajah kami ketika baru saja sampai di Ranupani. Di hari itu kami tidak langsung naik ke Semeru. Melainkan kami akan camp sehari di area Ranu Regulo. Ternyata yang tampak indah bukan hanya Ranukumbolo, tetapi Ranu Pani dan Ranu Regulo juga memiliki keindahannya sendiri walaupun tidak seindah Ranukumbolo.
Setelah memastikan semua berkumpul, kami jalan sedikit menuju loket sekaligus Camp Ranu Regulo. Ternyata banyak juga yang mau naik hari itu. Anggota kita saja sudah banyak, apalagi jika tambah orang lain. Waktu itu sore hari. Setelah memastikan semua data sudah aman di pendaftaran, aku dan yang lain dibawa kakak Pembina kami memasuki jalanan di samping loket. Disanalah jalan menuju Ranu Regulo.
Kami habiskan sore itu dengan membangun tenda untuk kami beristirahat. Dan saat malam tiba kami masak bersama dan bermain bersama sebelum akhirnya kami memutuskan beristirahat karena esok hari kami harus bangun pagi untuk memulai perjalanan menuju Ranukumbolo. Keesokan harinya aku dan beberapa teman sudah bangun lebih dulu. Bahkan sebelum matahari terbit, disaat matahari masih malu-malu menampakkkan diri. Kami berfoto-foto sejenak sebelum akhirnya membuat sarapan masing-masing. Ada yang hanya makan roti, ada juga yang menyalakan kompor untuk sekedar membuat mie instan. Makanan anadalan kalau naik gunung kekeke
Foto Kami Di Ranu Regulo
Sekitar pukul 7 pagi kami akhirnya memulai perjalanan. Tidak lupa kami melakukan pemanasan lebih dulu. Setelah memastikan semua aman dan tidak ada barang yang tertinggal, kami pun mulai perjalanan panjang yang kata orang cukup ditempuh dalam kurun waktu 4 – 6 jam. Tapi sayangnya bagi kami para pemula ini untuk sampai kesana membutuhkan waktu sekitar 8 – 9 jam. Lama juga ya wkwkwk
Dari post 4 kita harus melewati turunan untuk sampai di area camp Ranukumbolo dimana letaknya persis dibawa tanjakan cinta. Warna airnya sungguh menggiurkan. Jernih dan bersih, bahkan ketika kita kekurangan air minum, kita bisa mengambilnya dari sana. Itulah kenapa dulu dilarang cuci muka atau membawa bahan kimia apapun mendekati air danau. Kalau sekarang aku tidak tahu bagaimana kondisinya. Yang jelas itu yang terjadi sekitar hampir 9 tahun yang lalu. Sudah lama juga ya ternyata.
Sayangnya di malam itu kami tidak bisa menikmati malam dengan tenang karena hujan terus mengguyur. Mau tidak mau kita hanya bisa stay di dalam tenda. Semakin malam karena hujan tak kunjung berhenti, kami memutuskan untuk segera tidur dan berharap bangun sebelum matahari terbit.
Keesokkan akhirnya kami bisa menikmati keindahan yang sesungguhnya. Sebenernya ada banyak moment yang aku abadikan, tapi sayangnya waktu itu aku belum berjilbab, jadi aku tidak bisa memperlihat foto keindahan itu ke kalian. Sayang sekali ya…
Setelah berfoto cukup lama bersama indahnya terik matahari di antara dua bukit yang mengapit danau Ranukumbolo, kami semua memutuskan naik ke atas tanjakan cinta. Entah mitos ini masih berlaku atau tidak sekarang aku tidak tahu. Katanya kalau kita naik ketanjakan cinta dan memikirkan orang yang kita suka tanpa menoleh kebelakang, katanya cinta itu akan menjadi nyata. Saat itu aku memang melakukannya, aku memikirkan kakak tingkat yang saat itu kagumi, sayangnya aku tidak bisa melakukan syaratnya. Bukannya jalan terus tanpa menoleh ke belakang, eh aku dengan sadarnya menoleh tanpa rasa bersalah kekeke
Ternyata untuk jalan nanjak menuju atas tanjakan cinta juga tidak mudah. Ada beberapa yang menyerah dan berakhir turun ke camp lagi karena memang ternyata sesusah itu. Bukan karena jalannya yang terjal, melainkan nafas kami yang tidak kuat. Kalau aku beruntungnya aku berhasil menjajaki puncak tanjakan cinta itu. Melihat secara langsung gunung semeru yang gagah itu.
Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk sekedar mengbadikan moment menggunakan kamera kecil yang aku bawa, salah satu kakak Pembina meminta kami untuk kembali ke camp. Namun dengan nakalnya aku dan beberapa anak memutuskan untuk tidak kembali ke camp, melainkan turun kebawah untuk sekedar menjajaki padang savanna yang terlihat indah waktu itu. Dengan bunga keunguannya kami berjalan diantaranya. Sungguh tidak ada kata lain yang bisa aku ucapkan selain takjub akan semua Ciptaan-Nya. Memang hanya Tuhan yang bisa menciptakan itu semua.
Setelah berjalan-jalan tidak terlalu jauh, kami akhirnya ketahuan oleh salah satu kakak Pembina. Mereka meneriaki kita untuk segera kembali ke camp karena sekitar pukul 9 atau 10, kami sudah harus kembali turun ke Ranuregulo. Aku dan beberapa teman lain akhirnya dengan segera kembali naik ke puncak tanjakan cinta dan turun ke camp.
Setelah merapikan semua barang bawaan kami ke dalam tas, rombongan kami akhirnya memulai perjalanan untuk kembali pulang. Kami kembali berjalan pulang sesuai kelompok yang sudah ditentukan. Namun sayangnya karena kelompokku banyak anak-anak yang tidak kuat berjalan dan jadi banyak istirahat, aku memutuskan jalan lebih dulu sambil membawa tenda karena ingin segera sampai di Ranu Regulo. Karena menurutku semakin sering berhenti dan istirahat, maka rasa lelahnya akan semakin menyiksa. Hingga pada akhirnya untuk turun dari Ranuukumbolo aku hanya membutuhkan waktu 5 jam dan itu aku satu-satunya perempuan yang sampai lebih dulu di Ranu Regulo. Sedikit bangga akan hal itu karena setidaknya aku bisa istirahat lebih lama dibanding yang lain sebelum kami pulang ke rumah.
Setelah pendakianku ke Ranukumbolo lah yang membuatku sampai sekarang suka naik gunung. Aku kira rasa kapok itu akan menyapa lagi, namun ternyata bukan rasa kapok yang menyapa melainkan rasa candu untuk kembali ke gunung. Teryata selama pendakian itu ada satu hal yang tidak bisa aku dapatkan ditempat lain yaitu KETENANGAN.
Sekian cerita pengalaman kali ini. Nantikan cerita pengalamanku yang lain. Thanks for read it, I hope you like it…
IG : Vindrimoe
Twitter : @Vindrimoestria_
Youtube : Vindri Moe
(https://www.youtube.com/channel/UCy8wU1n5LxPnAou5sWvMDVA)
If you wanna read my story
wattpad : Vindri Moe
( https://www.wattpad.com/user/Vindri_Moe )
Komentar
Posting Komentar