KAMPUNG INGGRIS PARE, KEDIRI
Akhirnyaaaa setelah sekian lama tidak menulis di blog ini, aku kembaliiii Yaaayyyy... Langsung saja tidak perlu berlama-lama.
Tahun 2017 silam, tepat saat liburan semester 2 menuju semester 3, aku memutuskan untuk menimbah ilmu ke Kampung inggris Pare, Kediri. Waktu itu masih gencar-gencarnya ingin bisa bicara bahasa inggris dengan lancar dan bisa mengerti yang namanya Grammer. Basicly kelemahanku dalam berbahasa inggris memang terletak di grammernya. Apalagi keinginan untuk berkuliah ke Luar negeri masih ada. Dengan kesibukkan ditengah-tengah acara penerimaan siswa baru, aku yang notabennya memang mahasiswa yang cukup aktif memilih menyisihkan waktu satu bulan untuk menimba ilmu di Pare, Kediri dengan sisa tabungan yang sudah aku kumpulkan selama satu tahun.
Dengan jiwa kenekatan yang sudah mendarah daging dalam diri, aku memberanikan melakukan perjalanan menggunakan motor dari Sidoarjo menuju Kediri. Awalnya memang aku tidak diizinkan untuk berangkat sendiri oleh kedua orangtuaku, tetapi setelah meyakinkan keduanya bahwa aku akan baik-baik saja selama perjalanan, akhirnya orang tuaku setuju dan membiarkan aku berangkat sendiri ke Kediri. Dengan hanya berbekel teman setia yakni google maps dengan beberapa kali nyasar dan salah jalan, akhirnya hampir selama 4 jam perjalanan sampai juga di tempat penginapan yang sudah aku pesan jauh-jauh hari sebelum datang ke Pare. Aku memutuskan untuk menginap di Andromeda camp yang mana penginapan itu khusus untuk perempuan.
Sesampainya disana, aku disambut oleh salah seorang miss yang aku lupa siapa namanya. Dia memberikan beberapa keterangan dan persyaratan selama tinggal disana. Salah satunya adalah kami tidak diizinkan bicara menggunakan bahasa Indonesia. Jadi apapun yang ingin kita ucapkan harus selalu menggunakan bahasa inggris, jika melanggar aturan akan diberikan sanksi untuk hal itu. Agak ketar ketir ya ketika tahu persyaratannya seperti itu, apalagi saat itu kemampuan bicaraku memang belum sefaseh itu. Setelah mendengarkan penjelasannya akhirnya aku ditunjukkan kamar yang akan aku gunakan untuk istirahat. Ternyata di kamar itu sudah ada beberapa anak yang akan menjadi roomateku selama satu bulan belajar disana.
Mereka adalah teman-teman yang menemaniku tidur selama satu bulan di Pare, Kediri. Mereka teman-teman yang menyenangkan dan seru. Bahkan hanya dalam hitungan hari kami bisa begitu akrab walaupun kami mengikuti kelas bahasa inggris yang berbeda. Mereka berasal dari berbagai kota, bahkan ada juga yang asli asal Kediri. Tapi mohon maaf karena sudah sangat lama, aku lupa nama-nama mereka. Kami masih saling mengikuti di sosial media, hanya saja sudah lama tidak bertegur sapa atau sekedar DM di instagram.
Setelah mendapatkan kamar, aku juga dijelaskan dan diberikan jadwal kelas-kelas yang akan aku ikuti selama satu bulan penuh. Motor yang aku bawa selama kelas aku simpan di parkiran penginapan, namun selama disana, aku dan teman-temanku memilih menyewa sepeda untuk akses dari satu kelas ke kelas lain. Pasalnya aku tidak hanya belajar disatu tempat, melainkan beberapa tempat yang mana memang jaraknya bisa diakses dengan jalan kaki dan menaiki sepeda ontel. Tapi akan lebih menyenangkan sepeda ontel jadi bisa melakukan perjalanan sedikit lebih jauh tanpa kaki harus berlelah-lelah. Selama satu bulan aku ditemani oleh si Ungu.
Dengan dialah aku bisa pergi kemana pun yang aku mau. Sederhana, tapi seru dan menyenangkan.
Hari-hari pun akhirnya aku lewati dengan pusing dan banyak ketidakpahaman yang aku alami mengenai materi-materi grammer yang aku dapat. Jujur ternyata sesusah itu belajar grammer guys. Aku juga tidak mengerti kenapa sesusah itu otakku menerima setiap materi yang terima. Bahkan jika boleh jujur sampai sekarang saja kadang aku masih tidak begitu paham bagaimana menggunakan grammer yang baik dan benar.
Disana aku bertemu dengan begitu banyak orang-orang yang berasal dari berbagai kota. Bahkan ada yang dari Kalimantan, Sumatra dan masih banyak lagi. Ternyata Kampung Inggris Pare di Kediri ini sudah sangat terkenal juga ya, bahkan peminatnya berasal dari luar Kota yang menurutkan sangat jauh sekali.
Mereka adalah teman-teman yang memiliki tujuan yang sama denganku, yakni belajar bahasa inggris dengan baik dan benar. Bahkan diantara mereka ada yang sudah berhasil Kuliah di Luar Negeri. Jujur saat melihat kabar mereka di sosial media, aku ikut bangga karena salah satu diantara mereka bisa mewujudkan impiannya. Sedih memang karena aku tidak bisa mewujudkan apa yang aku impikan sejak SMA, tapi aku percaya sama ketentuan dan jalan Allah bahwa ada jalan yang lebih baik buat aku selain kuliah di Luar Negeri.
Selama satu bulan itu aku tidak hanya stay di Kediri, aku lupa dua apa tiga setiap hari libur, lebih tepatnya setiap hari Minggu aku harus tetap ke Malang karena harus mempersiapkan acara penerimaan Mahasiswa baru dua bulan lagi. Mau tidak mau setiap sabtu malam atau sore setelah kelas, aku harus berangkat Ke Malang. Entah naik bus atau bahkan menggunakan motor. Jujur perjalanan Kediri ke Malang jika menggunakan motor cukup mengerikan. Pasalnya harus melewati tebing-tebing yang dilewati truk dan mobil-mobil besar juga. Tapi karena memang saya tergolong perempuan-perempuan nekat, ya mau tidak mau harus aku lalui bukan. Tapi aku tidak pernah menyesal melakukan hal itu karena bisa mendapatkan pemandangan yang menurut aku sudah cukup menenangkan walaupun sesaat ditenga-tengah kesibukan yang ada.
Cantik bukan pemandangannya.
Setiap kali melewati pemandangan itu, aku memilih berhenti sejenak di pinggir jalan untuk sekedar memandangi ketenangan danau itu walaupun banyak kendaraan yang berlalu lalang. Untuk beberapa saat seakan masalah-masalah yang saat itu tidak seberat sekarang bisa hilang sejenak. Setelah dirasa sudah cukup mengambil jeda, aku melanjutkan perjalanan kembali menuju Pare, Kediri.
Di Minggu terakhir sebelum masa belajarku habis, aku dengan salah satu roomate yang berasal dari Kediri asli memilih untuk liburan sore sejenak di Monumen Simpang Gumul, Kediri. Dimana monumen tersebut mirip sekali dengan salah satu bangunan yang ada di Paris, Perancis yang bernama The Arc de Triomphe. Paling tidak walaupun aku belum pergi ke Paris, aku sudah bisa menikmati bangunan yang mirip yang ada di kota tersebut hahahah
Tepat saat weekend aku datang kesana dengan temanku. Itu sebabnya banyak sekali orang yang datang kesana. Datang kesana dengan tujuan untuk menikmati akhir pekan bersama keluarga atau bahkan dengan orang-orang yang mereka kasihi. Banyak keluarga dan anak kecil yang terlihat bahagia menghabis waktu bersama dengan sederhana. Melihat ke-akraban keluarga-keluarga itu tanpa sadar membuatku tersenyum sendiri. Sebenarnya untuk sampai di dekat monumen dari parkiran, kita harus melewati lorong bawah tanah lebih dulu. Namun saat itu aku tidak mengambil gambar disana. Mungkin jika ingin tahu lorongnya seperti apa, kalian bisa mencoba cari di mbah google, pasti mbah google tahu hahaha
Setelah satu bulan sudah aku lalui disana, untuk perpisahan, kami di Andromeda camp memutuskan membuat acara perpisahan kecil-kecilan. Saling menyampaikan kesan dan pesan selama belajar disana yang tanpa sadar membuat kami bersedih karena tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Banyak kenangan senang, sedih, seru dan banyak hal yang aku rasakan. Mungkin bukan hanya aku, tapi teman-teman yang lain juga. Tanpa sadar satu bulan bersama membuat aku memiliki keluarga baru saat itu. Namun kehidupan terus berlanjut, kesibukkan menanti didepan mata.
Senang rasanya bisa mengenal mereka semua. Sesekali kali bertegur sapa bersama, bahkan menonton TV bersama untuk melepas waktu luang yang ada. Menonton sembari bercanda. Terima kasih teman-teman untuk satu bulan yang begitu menyenangkan kala itu.
Sekian cerita pengalaman kali ini. Semoga bisa bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya ya. Terima kasih sudah membaca.
Find me:
Instagram : Vindrimoe
Youtube : https://youtube.com/@vindrimoe?si=wCfzmbaCyqL66W42
Wattpad : Vindri_moe
Tiktok : Vindrimoe










Komentar
Posting Komentar